APA WARNA URINE MU ?

Warna urine bisa bermacam-macam, mulai dari bening/jernih hingga kehitaman. Apakah anda pernah mengalaminya? Tulisan ini akan membahas tentang warna urine dan apa saja kemungkinan penyebabnya. Yuk,kita belajar bersama.

Warna urine timbul akibat adanya beberapa bahan seperti porfirin,bilirubin,urobilin,uroethryn dan beberapa bahan kompleks yang belum diketahui isinya. Bahan-bahan diatas sebenarnya adalah produk hasil metabolisme tubuh kita seperti bilirubin adalah produk pemecahan sel darah merah yang sudah tua.

Setiap perubahan warna pada urine dapat menggambarkan adanya perubahan pada komposisi/bahan-bahan pembentuk warna urine. Sebagian besar penyebab perubahan warna urine adalah obat-obatan dan produk turunannya. Kadang-kadang dalam urine juga tampak adanya kabut yang bisa dilihat dengan mata telanjang.

Kabut putih ini bisa terjadi akibat adanya fosfat yang mengendap pada urine yang bersifat basa. Kabut juga bisa muncul akibat adanya nanah pada kasus infeksi saluran kencing karena bakteri atau jamur. Sebab lain adanya kabut adalah lemak yang ikut keluar lewat kencing, adanya lemak ini sering pada penyakit ginjal (sindrom nefrotik) atau kontaminasi dari botol penampung urine. Protein yang keluar dalam jumlah banyak di urine pada orang-orang dengan gagal ginjal,diabetes mellitus atau hipertensi dengan komplikasi juga bisa mengakibatkan adanya kabut pada urine. Kejadian yang jarang adalah kebocoran pembuluh limfe pada kasus filariasis (kaki gajah).

Sekarang kita bahas mengenai warna urine ya, urine yang encer dan dan tak berwarna sering disebabkan poliuria atau produksi kencing yang berlebihan pada penderita diabetes mellitus. Urine berwarna kuning kecoklatan bisa disebabkan adanya bilirubin, adanya obat-obatan seperti Quinine,Fenolftalein,Metildopa dan Nitrofurantoin. Beberapa makanan yang mengandung Karoten (wortel),Vitamin B2 dan Anthrone.

Bagaimana kalo urine kita berwarna coklat kemerahan ? Urine seperti teh ini sangat mungkin akibat adanya hemoglobin atau myoglobin. Hemoglobin adalah produk pemecahan sel darah merah sedangkan myoglobin adalah produk pemecahan sel-sel otot. Obat yang menyebabkan urine coklat kemerahan adalah Fenitoin dan Sulfametoxazole.

Bagaimana kalo urine kita berwarna merah ? Adanya Porphobilin dan Porfirin pada kasus porfiria akibat kelainan genetik menyebabkan kasus urine berwarna merah. Obat Deferoxamine, Rifampisin dan makanan yang mengandung Betanin dan Rhodamin B (es krim) juga bisa menyebabkan urine merah.

Kasus yang jarang adalah urine berwarna hijau, Ini akibat adanya cairan empedu yang masuk ke saluran kencing, obat Amitryptilin dan infeksi oleh kuman Pseudomonas. Urine berwarna biru, sering akibat obat yang mengandung Evans Blue atau Metilen Blue. Sedangkan urine berbuih akibat keluarnya protein lewat urine.

Bagaimana kalau urine berwarna hitam ? Adanya hemoglobin yang banyak pada kasus malaria, melanoma dan alkaptonuria adalah penyebabnya. Obat Levodopa dan Metronidazole serta keracunan zat kimia Fenol juga bisa menyebabkan urine berwarna hitam.

Jadi dari warna urine diatas,kita dapat memperkirakan apa masalah yang terjadi di tubuh kita, tentunya disertai dengan pemeriksaan lain. Semoga bermanfaat.

Pemeriksaan Toxoplasmosis

Toxoplasmosis merupakan penyakit infeksi yang disebabkan Toxoplasma gondii, suatu protozoa intraseluler obligat. Ditemukan oleh Nicelle dan Manceaux pada tahun 1909 yang menyerang hewan pengerat di Tunisia, Afrika utara.  Penyakit Toxoplasmosis biasanya ditularkan dari kucing atau anjing tetapi juga dapat menyerang hewan lain seperti babi, domba, dan hewan peliharaan lainnya.Hospes definitif dari Toxoplasma gondii adalah kucing. Artinya parasit ini dapat berkembang biak dalam tubuh hewan ini, sehingga kucing dapat menularkan penyakit Toxoplasmosis ini. Manusia disini hanya sebagai perantara, dimana parasit ini hanya  dapat hidup dalam bentuk vegetatif tanpa melakukan persilangan. Sehingga manusia  tidak dapat menularkan Toxoplasmosis.

Banyak kasus toksoplasmosis pada manusia didapat dari masuknya jaringan kista pada daging yang terinfeksi atau ookista pada makanan yang tercemar kotoran kucing. Bradyzoite dari jaringan kista atau sporozoite yang terlepas dari ookista masuk ke sel-sel epitel di usus dan membelah diri di usus. Toxoplasma gondii dapat menyebar, baik secara lokal ke jaringan limfe di perut maupun ke organ-organ yang cukup jauh dengan menyerang kelenjar-kelenjar limfe dan darah.  Gambaran klinis akan tampak setelah beberapa waktu dari rusaknya jaringan dari beberapa organ yang terinfeksi, khususnya yang vital dan penting seperti mata, jantung, dan kelenjar adrenal.

Pemeriksaan Toxoplasmosis sendiri ditujukan untuk mendeteksi adanya antibodi yang muncul akibat masuknya Toxoplasma gondii ke dalam tubuh penderita.  Pemeriksaan yang dilakukan meliputi  IgM Toxoplasma, IgG Toxoplasma dan IgG avidity Toxoplasma. Ada beberapa indikasi yang menentukan kapan kita perlu pemeriksaan Toxoplasma ini, diantaranya : riwayat infertilitas, abortus yang berulang, kelahiran prematur, lahir mati, kelainan kongenital dan adanya riwayat memelihara hewan piaraan seperti kucing. Indikasi lain pemeriksaan serologi toxoplasmosis adalah untuk menentukan derajat penyakit dan pemantauan terapi.

Lalu bagaimana hasil pemeriksaan serologi Toxoplasma dilaporkan ? Karena metode pemeriksaan ini bermacam-macam, maka nilai rujukan/referensi pun berbeda-beda tergantung dari metode yang digunakan dan di laboratorium mana pemeriksaan serologi ini dilakukan. Prinsipnya terdapat dua jenis pelaporan hasil; secara kualitatif dan secara kuantitatif. Kualitatif hanya melaporkan hasil berupa positif atau negatif  saja, sedangkan hasil kualitatif akan memberikan hasil berupa angka (indeks) yang perlu diinterpretasikan lagi.

Berikut adalah contoh hasil dan interpretasi hasil pemeriksaan serologi Toxoplasma :

Laporan hasil IgG Toxoplasma dalam IU/mL dan positif atau negatif.

  • Sampel dengan hasil nilai kurang dari 6.4 IU/mL  dinyatakan negatif
  • Sampel dengan hasil nilai antara 6.4-9.9 IU/mL dinyatakan equivocal
  • Sampel dengan hasil nilai lebih dari 10 IU/mL dinyatakan positif

Laporan hasil IgM Toxoplasma dalam indeks dan positif atau negatif.

  • Sampel dengan hasil nilai indeks kurang dari 0.9 dinyatakan negatif
  • Sampel dengan hasil nilai indeks antara 0.9-0.99 dinyatakan ekuivokal
  • Sampel dengan hasil nilai indeks lebih dari 1.0  dinyatakan positif

 Laporan hasil IgG avidity Toxoplasma

  • Sampel dengan hasil avidity index ≤ 50%  menunjukkan aviditas yang rendah, makna klinisnya menunjukkan adanya infeksi akut Toxoplasma
  • Sampel dengan hasil avidity index  50%-60%  menunjukkan aviditas borderline, makna klinisnya menunjukkan bahwa Toxoplasmosis belum dapat ditentukan, perlu pemeriksaan ulang dan evaluasi kondisi klinis.
  • Sampel dengan hasil avidity index ≥ 60%  menunjukkan aviditas yang kuat, makna klinisnya menunjukkan adanya infeksi  kronik Toxoplasma .                                               Tes IgG avidity Toxoplasma ini diperiksakan untuk membedakan apakah infeksi Toxoplasma ini akut (sedang menderita Toxoplasma) atau kronis (pernah menderita Toxoplasma), Hal ini penting terutama untuk wanita hamil, apakah dia memerlukan terapi atau tidak. Pada kondisi akut diperlukan terapi sedangkan kondisi kronis tak perlu diterapi. Semoga bermanfaat

MENILAI MUTU LABORATORIUM

Mutu laboratorium menjadi masalah yang krusial, saat ini laboratorium bukan hanya menjadi penunjang dokter dalam menentukan diagnosis, bahkan telah menjelma menjadi penentu diagnosis itu sendiri. Banyak masalah yang erat kaitannya dengan mutu laboratorium itu sendiri. Biaya yang mahal, pengetahuan yang terbatas, kesempatan dan kemauan melaksanakan secara konsisten adalah tantangan yang harus dihadapi dalam menjaga mutu suatu laboratorium.
Di dunia laboratorium, mutu didefinisikan sebagai kemampuan laboratorium dalam mempertahankan presisi dan akurasi pemeriksaan yang dilakukannya. Presisi adalah kemampuan suatu metode dalam menghasilkan hasil yang berbeda apabila dilakukan pada sampel yang sama secara berulang-ulang. Sebagai contoh, apabila darah saya diambil untuk diperiksa kadar gulanya dan diperiksa berulang-ulang sebanyak sepuluh kali, maka metode pemeriksaan yang memiliki presisi yang baik akan memberikan hasil yang tidak jauh berbeda satu sama lain, secara statistik, impresisi (ketidakpresisian) dari suatu metode dapat dinilai dengan menghitung standar deviasi dan koefisien variasi dari pemeriksaan berulang tersebut. Semakin besar standar deviasi dan koefisien variasinya maka semakin TIDAK presisi metode tersebut.
Sedangkan akurasi didefinisikan sebagai kemampuan suatu metode pemeriksaan untuk memberikan hasil beda dengan ‘nilai benar’ (true value). Disini diperlukan suatu larutan yang telah diketahui kadarnya yang disebut sebagai larutan standar sebagai dasar ‘nilai benar’. Sebagai contoh, apabila saya mempunyai larutan standar berisi glukosa 100 mg/dl kemudian saya periksakan di laboratorium maka beda antara hasil yang diperoleh dengan nilai sebenarnya itulah yang menunjukkan keakurasian metode tersebut.
Presisi dan akurasi inilah yang harus selalu dijaga oleh laboratorium sehingga mutu hasilnya benar-benar dapat dijamin. Untuk memastikannya maka laboratorium harus melakukan Pemantapan Mutu Internal (PMI) dan Pemantapan Mutu Eksternal (PME). PMI dilaksanakan setiap hari di laboratorium dengan menggunakan bahan kontrol yang sama dan mempunyai nilai rentang. Apabila pada pemeriksaan menggunakan bahan kontrol ini memberikan hasil diluar rentang maka laboratorium wajib mencari penyebabnya dan alat tidak boleh dijalankan untuk pemeriksaan hingga hasil kontrol masuk kembali ke dalam rentang yang telah disesuaikan. Kendala yang sering dihadapi laboratorium adalah mahalnya harga bahan kontrol, pengetahuan yang minim dari operator mengenai interpretasi hasil kontrol dan kemauan dari pimpinan atau pemilik laboratorium untuk menjalankan PMI ini.
Pemantapan Mutu Eksternal (PME) dilakukan oleh pihak diluar laboratorium, bisa pemerintah, organisasi profesi atau pihak swasta. Tidak ada kewajiban bagi laboratorium untuk melakukan PME karena sifatnya sukarela. PME ini dilakukan secara periodik dalam jangka waktu tertentu. Prosedurnya adalah lembaga penyelenggara PME mengirimkan suatu sampel yang harus diperiksa oleh laboratorium peserta, kemudian hasil dari laboratorium- laboratorium peserta ini dikumpulkan untuk mendapatkan nilai referensinya. Dari nilai referensi inilah dapat dinilai apakah akurasi suatu laboratorium itu baik, sedang, kurang atau buruk. Karena itu semakin banyak peserta misalnya pada PME yang dilakukan secara global (internasional) maka semakin baik nilai referensi yang dihasilkan. Pihak penyelenggara biasanya memberikan feedback untuk perbaikan yang bisa dilakukan di laboratorium. Masalah biaya dan keengganan pimpinan laboratorium kembali menjadi penyebab suatu laboratorium untuk melaksanakan PME.
Karena PMI dan PME ini sangat berkaitan dengan metode dan alat yang digunakan masing-masing laboratorium, maka hasil PMI dan PME ini juga spesifik untuk laboratorium tersebut berada, sebagai contoh, apabila saya mempunyai lima laboratorium di tempat yang berbeda maka hasil PMI dan PME untuk satu tempat tidak dapat digunakan untuk keempat laboratorium lainnya karena variasi tiap alat,metode,kondisi ruangan dan kemampuan operator masing-masing tempat juga berbeda.
Maka apabila kita mempunyai sebuah perusahaan dan hendak melakukan general check up untuk karyawan kita, jangan lupa meminta hasil Pemantapan Mutu Internal maupun Pemantapan Mutu Eksternal yang dilakukan oleh laboratorium tersebut, karena dari sanalah kita bisa mengetahui mutu dan komitmen laboratorium tersebut dalam menjaga kualitas hasil yang dikeluarkannya.

Dulu positif sekarang kok negatif?

Hari itu terjadi kehebohan di selasar suatu rumah sakit, seorang laki-laki terlihat kebingungan sambil membawa selembar hasil laboratorium, sementara wanita yang berada di sampingnya menangis tersedu-sedu. Selidik punya selidik ternyata kedua orang ini shock setelah hasil pemeriksaan laboratoriumnya menunjukkan hasil Hepatitis B positif. Si pasien laki-laki ini bergegas menggandeng wanita disampingnya untuk segera pergi dari rumah sakit dan dengan penuh rasa ragu dia bertekad mencari laboratorium lain, siapa tahu hasil dari rumah sakit ini salah, pikirnya.
Setelah diambil darah lagi di sebuah laboratorium, untuk diperiksakan hepatitis B nya, si laki-laki ini dapat tersenyum lega karena hasilnya menunjukkan hepatitis B nya negatif. Tapi keraguan muncul lagi dibenaknya, jangan-jangan hasil dari rumah sakit tadi yang benar, dan hasil laboratorium kedua tadi salah. Terus  bagaimana ya?
Kejadian diatas mungkin pernah terjadi pada kita, secara medis hal tersebut sangat mungkin. Ada beberapa hal yang mempengaruhi kenapa hasil tes tadi berubah dalam waktu pendek.
1. Jenis dan perjalanan penyakit
Banyak penyakit mempunyai keunikan dalam perjalanan penyakitnya. Contoh paling sering dikemukakan adalah infeksi virus HIV yang menyebabkan AIDS. Dalam perjalanan penyakit AIDS ini dikenal istilah ‘window period’ yaitu kondisi dimana virus HIV telah ADA didalam tubuh dan berkembang tetapi penderita tidak mempunyai keluhan dan apabila diperiksakan hasil tes nya akan negatif. Hingga pada suatu saat, kadar virus HIV mencapai jumlah tertentu barulah pemeriksaan laboratorium mampu mendeteksinya. Lalu bagaimana bila hasil yg pertama positif lalu yg kedua negatif? Virus HIV dan beberapa virus yang lain mempunyai bentuk dan jenis yang mirip satu sama lain, alat tertentu kadang tidak bisa membedakan virus atau kuman yang mirip sehingga akan memberikan hasil yang positif. Untuk kasus HIV positif harus dilakukan tes konfirmasi. Tes ini bersifat spesifik, artinya mempunyai kemampuan dalam membedakan jenis virus HIV dengan virus yang lain. Sehingga hasil tes yang positif tadi berubah menjadi negatif apabila dalam tubuh kita tidak ada virus HIV.
Sama seperti HIV, hepatitis B juga mempunyai window period. Bedanya, saat window period ini dapat dideteksi antibodi terhadap inti virus HIV (IgM antiHbc) sehingga penanganan dini dapat dilakukan. Hepatitis B virus sendiri sebagian besar juga akan sembuh sendiri sehingga apabila tes awal hepatitis positif bisa berubah jadi negatif. Dalam dunia medis, hal ini disebut sebagai serokonversi. Tapi bisakah tes yang negatif tadi berubah jadi positif lagi? Tentu saja bisa,kalau tertular lagi. Misalkan saja seorang istri yang mempunyai suami penderita hepatitis B, waktu cek darah pertama hasil HbsAg nya positif, enam bulan kemudian cek ulang hasilnya negatif. Karena penularan hepatitis B ini lewat cairan tubuh seperti darah dan sperma, maka kemungkinan terinfeksi virus hepatitis B lagi sangat terbuka. Begitu juga sebaliknya.
Masih banyak penyakit yang perjalanannya seperti dua kasus diatas. Ketepatan waktu pemeriksaan dan pemeriksaan secara periodik akan sangat membantu diagnosis.
2. Faktor penderita
Faktor penderita disini terutama berhubungan dengan bagaimana tubuh memperlakukan patogen yang masuk ke dalam tubuhnya. Beberapa pemeriksaan laboratorium tertentu mendeteksi antibodi terhadap penyakit. Pola pikirnya adalah apabila seseorang terkena penyakit maka tubuh akan memberikan respon dengan membentuk antibodi yang spesifik untuk kuman tersebut. Nah, antibodi inilah yang diperiksa oleh suatu alat khusus. Pembentukan antibodi ini sangat dipengaruhimoleh kondisi tubuh seseorang. Malnutrisi, kekurangan protein dan sakit parah akan membuat tubuh tidak mampu membentuk antibodi. Sehingga apabila dilakukan pemeriksaan yang membutuhkan kehadiran antibodi akan memberikan hasil negatif. Dan ketika kondisi tubuh penderita membaik dan mampu membentuk antibodi maka hasil tes nya pun bisa menjadi positif.
3. Faktor teknis laboratoris
Pemeriksaan laboratorium menggunakan METODE tertentu untuk mendeteksi suatu kelainan. Metode ini mempunyai sensitivitas dan spesifisitas dalam mendeteksi gangguan tersebut. Sensitivitas artinya kemampuan metode dalam mendeteksi suatu kelainan dalam jumlah paling kecil. Contohnya bila suatu virus ada dalam tubuh, maka kadar terkecil dari virus tersebut yang masih bisa dideteksi oleh metode tersebut itulah yang dinamakan sensitivitas. Maka dari itu semakin sensitif suatu pemeriksaan semakin baik metode tersebut dalam mendeteksi penyakit.Pemeriksaan untuk skrining atau check up memerlukan suatu metode yang sensitivitasnya tinggi sehingga dapat mendeteksi penyakit secara dini.
Satu lagi yang penting mengenai metode ini adalah spesifitasnya. Seperti pada kasus HIV diatas, spesifitas menentukan bagaimana sebuah metode mampu membedakan patogen penyebab sakit dengan bahan lainnya. Idealnya, suatu metode pemeriksaan laboratorium mempunyai sensitivitas dan spesifisitas yang tinggi, namun kenyataannya apabila sensitivitasnya tinggi, metode tersebut spesifitasnya rendah, begitu pula sebaliknya. Sehingga, untuk mendeteksi suatu penyakit, terkadang tidak cukup hanya dengan satu pemeriksaan, tapi perlu dikonfirmasi dengan pemeriksaan lain.
Faktor pra analitik juga bisa berpengaruh terhadap hasil laboratorium. Sebagai contoh, pemeriksaan Prostat Spesific Antigen (PSA) untuk melihat gangguan di prostat, dapat memberikan hasil yang false positif pada penderita yang dilakukan manipulasi di saluran kencingnya. Seperti pemasangan kateter, pemeriksaan colok dubur dan tindakan lainnya. False positif disini berarti penderita sebenarnya tidak menderita suatu penyakit, tapi hasil laboratorium menunjukkan adanya penyakit.
Contoh lain pada pemeriksaan gula darah puasa, akibat puasa yang terlalu pendek, kadar gula bisa saja meningkat sehingga hasilnya menjadi lebih tinggi dari normal. Atau bisa juga sebaliknya, akibat puasa yang terlalu panjang, seseorang yang mestinya menderita kencing manis hasil laboratoriumnya bisa menunjukkan kadar gula yang normal atau rendah. Semoga membantu.

MEMBACA TES URINE LENGKAP

Si kecil tiba-tiba saja mengeluh kencingnya sakit,badannya pun mulai sumer-sumer.Saat dilihat di bekas popok lampinnya terlihat kencingnya sedikit kemerahan. Apa yang terjadi? Kasus diatas adalah salah satu contoh keluhan yang membutuhkan pemeriksaan laboratorium berupa pemeriksaan urine lengkap. Pemeriksaan ini terdiri dari pemeriksaan umum urine dan pemeriksaan sedimen (endapan) urine.  Pemeriksaan umum urine terdiri dari warna,berat jenis,pH,protein dan beberapa zat hasil metabolisme tubuh.

Pemeriksaan sedimen urine memperlihatkan adanya erytrosit atau sel darah merah,leukosit atau sel darah putih,adanya kristal,epitel,bakteri maupun jamur.
Lalu apa pentingnya pemeriksaan urine lengkap ini?Kondisi apa saja yang perlu dilakukan pemeriksaan ini? Bagaimana ‘membaca’ hasil pemeriksaan ini? Ayo kita berselancar membahas urine ini.

Kita mulai saja dengan pemeriksaan umum urine,disini pemeriksa akan melihat warna urine apakah merah yang menandakan adanya darah, berwarna seperti teh seperti pada kasus kelainan hati atau kehijauan akibat mengkonsumsi obat-obat tertentu.Setelah melihat warna urine,pemeriksa akan memeriksa berat jenis urine, harga  normal berat jenis urine ini adalah 1,005-1,030. Berat jenis yang menurun  terjadi pada kasus-kasus yang membuat urine lebih encer, seperti overload cairan, hipotermi (penurunan suhu tubuh) dan penyakit diabetes insipidus.

Sedangkan berat jenis yang meningkat  dapat terjadi pada kondisi yang membuat urine lebih pekat, seperti dehidrasi, demam,  luka bakar dan gangguan ginjal.pH urine juga diperiksa,normalnya pH urine berkisar antara 5-8. Urine yang asam dapat terjadi pada kasus acidosis, diabetes yang tidak terkontrol, diare, kelaparan, dehidrasi, penyakit pernafasan seperti kasus sesak nafas.

Sedangkan pada kondisi  infeksi saluran kencing karena kuman proteus, obstruksi pyloric, keracunan salisilat (aspirin), gagal ginjal kronik dan penyakit ginjal lainnya, membuat urine lebih basa dari pH normal urine yang berkisar antara 5-8. Setelah memeriksa hal diatas, pemeriksaan selanjutnya adalah melihat adanya bahan-bahan hasil metabolisme tubuh. Protein adalah bahan yang dibutuhkan tubuh,sehingga tidak boleh dibuang dalam urine. Apabila terdapat protein dalam urine maka patut dicurigai ada masalah dengan organ yang bertugas menyeleksi keluarnya protein ini yaitu ginjal (selengkapnya bisa dibaca artikel saya tentang mikroalbuminuria). Meskipun begitu kondisi panas tinggi dan dehidrasi berat juga dapat memberikan protein urine yang positif. Selanjutnya pemeriksaan urine ini akan mendeteksi adanya nitrite dalam urine. Berbeda dengan protein, nitrite ini lebih mengarah pada adanya infeksi karena kuman akan merubah nitrat dalam urine menjadi nitrit. Produk metabolisme tubuh lainnya yang diperiksa adalah adanya biliribun dan urobilinogen. Kedua bahan ini adalah produk dari liver atau hati, salah satu fungsinya adalah memberi warna kuning pada urine. Kadarnya dalam urine  akan meningkat sehingga urine tampak seperti teh. Kondisi ini dapat terjadi pada kasus gangguan hati seperti hepatitis, tumor hati dan gangguan di sistem empedu.

Kita lanjutkan bagaimana membaca tes urine lengkap ini. Kita sudah mengetahui bahwa pemeriksaan urine ini penting untuk mengetahui penyakit saluran kemih dan penyakit-penyakit yang berhubungan dengan metabolisme tubuh. Selanjutnya yang diperiksa dalam pemeriksaan urine  adalah pemeriksaan reduksi urine, pemeriksaan ini dulu sering dilakukan sebagai pertanda adanya gula di dalam urine, apabila positif menunjukkan adanya kadar gula dalam tubuh seseorang. Kelemahannya adalah pemeriksaan ini tidak menggambarkan kadar gula dalam darah,sehingga saat ini tidak dapat dijadikan dasar penegakan diagnosis kencing manis. Kita lanjutkan dengan pemeriksaan lainnya,  Dalam keadaan normal tidak didapatkan adanya darah didalam urine, adanya darah (erytrosit) dalam urine mungkin akibat perdarahan di saluran kencing(adanya batu,tumor yang berdarah,infeksi saluran kencing,ginjal yg kekurangan darah/infark) atau pada wanita yang sedang haid akibat kontaminasi, itulah sebabnya pemeriksaan urine ini tidak disarankan untuk wanita yang sedang haid. Lekosit adalah tentaranya tubuh kita, apabila ada infeksi atau luka di saluran kencing,maka jumlah lekosit akan meningkat, leukosit juga akan meningkat akibat kontaminan misalnya akibat keputihan.  Secara normal kadar lekosit dalam urine adalah 0-5 per lapangan pandang bila dilihat dengan mukroskop. Setelah mencari adanya darah dan leukosit, yang kita cari adalah adanya silinder. Silinder adalah endapan protein yang terbentuk didalam tubulus ginjal,adanya silinder ini menunjukkan adanya penyakit yang serius dari ginjal misalnya radang pada ginjal.

Kristal dalam urine tidak selalu berhubungan dengan adanya batu di saluran kemih, kristal merupakan hasil metabolisme normal dari tubuh. Jenis makanan, kecepatan metabolisme dan kepekatan urin serta banyaknya makanan yang dikonsumsi akan mempengaruhi adanya kristal dalam urine. Epitel ibarat batu bata di dinding saluran kemih kita, jumlahnya akan meningkat apabila didapatkan adanya infeksi,radang dan batu saluran kemih. Bahan terakhir yang diperiksa dari urine lengkap ini adalah adanya benda-benda keton (keton bodies). Benda ini terdiri dari aseton,asam asetoasetat dan asam 13-hidroksibutirat. Puasa yang lama,diabetes mellitus (kencing manis) dan gangguan metabolisme lemak akan meningkatkan jumlah benda keton dalam urine.

Semoga bermanfaat!

ELEKTROLIT, PERANANNYA DALAM TUBUH

Beberapa hari ini di surat kabar nasional, diberitakan tentang Ramdan Aldil Saputra, bocah yang menderita atresia bilier. Proses cangkok hati dari ibunya yang dilakukan tim dokter dari RSUD dr Soetomo dibantu tim dokter dari Cina telah berhasil melakukan operasi ganti hati ini. Meskipun akhirnya Putra (nama baru Ramdan) akhirnya meninggal, tapi kita perlu mengapresiasi apa yang dilakukan pleh tim dokter. Perjuangan Putra memang tidak berjalan mulus, beberapa kali Putra mengalami berbagai masalah, mulai perdarahan otak, perdarahan usus dan terakhir kejang. Yang kita bahas kali ini adalah tentang keseimbangan elektrolit yang dikatakan oleh tim dokter sebagai penyebab munculnya kejang pada Putra.

Tubuh kita ini adalah ibarat suatu jaringan listrik yang begitu kompleks, didalamnya terdapat beberapa ‘pembangkit’ lokal seperti jantung, otak dan ginjal. Juga ada ‘rumah-rumah’ pelanggan berupa sel-sel otot. Untuk bisa mengalirkan listrik ini diperlukan ion-ion yang akan mengantarkan ‘perintah’ dari pembangkit ke rumah-rumah pelanggan. Ion-ion ini disebut sebagai elektrolit. Ada dua tipe elektrolit yang ada dalam tubuh, yaitu kation (elektrolit yang bermuatan positif) dan anion (elektrolit yang bermuatan negatif). Masing-masing tipe elektrolit ini saling bekerja sama mengantarkan impuls sesuai dengan yang diinginkan atau dibutuhkan tubuh.

Beberapa contoh kation dalam tubuh adalah Natrium (Na+), Kaalium (K+), Kalsium (Ca2+), Magnesium (Mg2+). Sedangkan anion adalah Klorida (Cl-), HCO3-, HPO4-, SO4-. Dalam keadaan normal, kadar kation dan anion ini sama besar sehingga potensial listrik cairan tubuh bersifat netral. Pada cairan ektrasel (cairan diluar sel), kation utama adalah Na+ sedangkan anion utamanya adalah Cl-.. Sedangkan di intrasel (di dalam sel) kation utamanya adalah kalium (K+).

Disamping sebagai pengantar aliran listrik, elektrolit juga mempunyai banyak manfaat, tergantung dari jenisnya. Contohnya :

  • Natrium     : fungsinya sebagai  penentu utama osmolaritas dalam darah dan pengaturan volume ekstra sel.
  • Kalium       : fungsinya mempertahankan  membran potensial elektrik dalam tubuh.
  • Klorida      : fungsinya mempertahankan tekanan osmotik, distribusi air pada berbagai cairan tubuh dan keseimbangan anion dan kation dalam cairan ekstrasel.
  • Kalsium     : fungsi utama kalsium adalah sebagai penggerak dari otot-otot, deposit utamanya berada di tulang dan gigi, apabila diperlukan, kalsium ini dapat berpindah ke dalam darah.
  • Magnesium : Berperan penting dalam aktivitas elektrik jaringan, mengatur pergerakan Ca2+ ke dalam otot serta memelihara kekuatan kontraksi jantung dan kekuatan pembuluh darah tubuh.

Tidak semua elektrolit akan kita bahas, hanya kalium dan natrium yang akan kita bahas. Ada dua macam kelainan elektrolit yang terjadi ; kadarnya terlalu tinggi (hiper) dan kadarnya terlalu rendah (hipo). Peningkatan kadar konsentrasi Natrium dalam plasma darah atau disebut hipernatremia akan mengakibatkan kondisi tubuh terganggu seperti kejang akibat dari gangguan listrik di saraf dan otot tubuh. Natrium yang juga berfungsi mengikat air juga mengakibatkan meningkatnya tekanan darah yang akan berbahaya bagi penderita yang sudah menderita tekanan darah tinggi. Sumber natrium berada dalam konsumsi makanan sehari-hari kita; garam, sayur-sayuran dan buah-buahan banyak mengandung elektrolit termasuk natrium.

Banyak kondisi yang mengakibatkan meningkatnya kadar natrium dalam plasma darah. Kondisi dehidrasi  akibat kurang minum air, diare, muntah-muntah, olahraga berat, sauna menyebabkan tubuh kehilangan banyak air sehingga darah menjadi lebih pekat dan kadar natrium secara relatif juga meningkat. Adanya gangguan ginjal seperti pada penderita Diabetes dan Hipertensi juga menyebabkan tubuh tidak bisa membuang natrium yang berlebihan dalam darah. Makan garam berlebihan serta penyakit yang menyebabkan peningkatan berkemih (kencing) juga meningkatkan kadar natrium dalam darah.

Sedangkan hiponatremia atau menurunnya kadar natrium dalam darah dapat disebabkan oleh kurangnya diet makanan yang mengandung natrium, sedang menjalankan terapi dengan obat diuretik (mengeluarkan air kencing dan elektrolit), terapi ini biasanya diberikan dokter kepada penderita hipertensi dan jantung, terutama yang disertai bengkak akibat tertimbunnya cairan. Muntah-muntah yang lama dan hebat juga dapat menurunkan kadar natrium darah, diare apabila akut memang dapat menyebabkan hipernatremia tapi apabila berlangsung lama dapat mengakibatkan hiponatremia, kondisi darah yang terlalu asam (asidosis) baik karena gangguan ginjal maupun kondisi lain misalnya diabetes juga dapat menjadi penyebab hiponatremia. Akibat dari hiponatremia sendiri relatif sama dengan kondisi hipernatremia, seperti kejang, gangguan otot dan gangguan syaraf.

Disamping natrium, elektrolit lain yang penting adalah kalium. Fungsi kalium sendiri mirip dengan natrium, karena kedua elektrolit ini ibarat kunci dan anak kunci yang saling bekerja sama baik dalam mengatur keseimbangan osmosis sel, aktivitas saraf dan otot serta keseimbangan asam – basa.

Kondisi hiperkalemia atau meningkatnya kadar kalium dalam darah menyebabkan gangguan irama jantung hingga berhentinya denyut jantung, Kondisi ini merupakan kegawatdaruratan yang harus segera diatasi karena mengancam jiwa. Beberapa hal yang menjadi penyebab meningkatnya kadar kalium adalah pemberian infus yang mengandung kalium, dehidrasi, luka bakar berat, kenjang, meningkatnya kadar leukosit darah, gagal ginjal, serangan jantung dan meningkatnya keasaman darah karena diabetes. Keadaan hiperkalemia ini biasanya diketahui dari keluhan berdebar akibat detak jantung yang tidak teratur, yang apabila dilakukan pemeriksaan rekam jantung menunjukkan gambaran yang khas.

Kondisi yang berkebalikan terjadi pada hipokalemia, penderita biasanya mengeluhkan badannya lemas dan tak bertenaga. Hal ini terjadi mengingat fungsi  kalium dalam menghantarkan aliran saraf di otot maupun tempat lain. Penyebab hipokalemia lebih bervariasi, penurunan konsumsi kalium akibat kelaparan yang lama dan pasca operasi yang tidak mendapatkan cairan mengandung kalium secara cukup adalah penyebab hipokalemia. Terapi insulin pada diabet dengan hiperglikemia, pengambilan glukosa darah ke dalam sel serta kondisi darah yang basa (alkalosis) menyebabkan kalim berpindah dari luar sel (darah) ke dalam sel-sel tubuh.Akibatnya kalium dalam darah menjadi menurun.

Kehilangan cairan tubuh yang mengandung kalium seperti muntah berlebih, diare, terapi diuretik, obat-obatan, dan beberapa penyakit seperti gangguan ginjal dan sindroma Cushing (penyakit akibat gangguan hormon) ju7ga menyebabkan penurunan kalium dalam darah. Penanganan kondisi hipokalemia adalah dengan mengkonsumsi makanan yang mengandung kalium tinggi seperti buah-buahan, mengobati penyakit penyebabnya dan apabila kadar kalium darah rendah sekali dapat dikoreksi dengan memasukkan kalium melalui infus.

ANTARA NS1 Ag DENGUE DAN IgG/IgM DENGUE

Kasus demam berdarah saat ini kembali meningkat kasusnya di berbagai daerah. Problem yang berulang setiap tahun ini selalu menimbulkan angka kematian dan kesakitan yang tinggi di masyarakat. Kegiatan pencegahan melalui berbagai kegiatan sampai saat ini masih belum memberikan hasil yang signifikan. Program pemberantasan jentik nyamuk, pengelolaan lingkungan yang baik, pengasapan dan abatisasi masih menjadi tumpuan dalam program pemberantasan demam berdarah ini.
Masalah lain yang muncul adalah deteksi dini untuk mengetahui apakah saat ini seseorang sedang atau pernah terkena infeksi virus dengue. Hal ini dipersulit dengan gejala infeksi virus dengue yang seperti sakit panas atau batuk pilek biasa. Gejala spesifik dari infeksi ini juga hampir tidak ada. Bervariasinya jenis dan serotipe dari virus dengue dengan manifestasi klinis yang juga bervariasi membuat semakin sulitnya melakukan deteksi dini penyakit dengue ini.
Pemeriksaan laboratorium sebagai salah satu penunjang dalam penegakan diagnosis infeksi virus dengue juga telah mengalami perkembangan yang cukup signifikan. Mulai dengan pemeriksaan isolasi virus dengue, pemeriksaan PCR dengue, hingga pemeriksaan cepat seperti IgG/IgM Dengue dan yang terbaru NS1 Ag Dengue. Masing-masing mempunyai kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Saat ini yang menjadi pilihan adalah IgG/IgM Dengue dan NS1 Ag Dengue karena akurasinya yang bagus, kecepatan selesai hasil yang cepat, mudahnya cara pemakaian serta biaya yang relatif murah dibanding pemeriksaan yang lain.
Mengingat jumlah kasus kematian akibat infeksi virus dengue, maka pemeriksaan cepat atau rapid test ini sangat membantu tenaga medis dalam menegakkan diagnosis dengue. IgG/IgM Dengue adalah rapid test yang muncul lebih dulu dibanding NS1 Ag Dengue, pemeriksaan ini mendeteksi adanya antibodi terhadap virus dengue. Ada dua antibodi yang dideteksi yaitu Imunoglobulin G dan Imunoglobulin M, dua jenis antibodi ini muncul sebagai respon tubuh terhadap masuknya virus ke dalam tubuh penderita. Imunoglobulin G akan muncul sekitar hari ke-4 dari awal infeksi dan akan bertahan hingga enam bulan pasca infeksi. Atas dasr hal diatas maka antibodi ini menunjukkan kalau seseorang pernah terserang infeksi virus dengue, setidaknya dalam enam bulan terakhir.
Imunoglobulin M juga diproduksi sekitar hari ke-4 dari infeksi dengue, tetapi antibodi jenis ini lebih cepat hilang dari tubuh. Adanya Imunoglobulin M dalam tubuh seseorang menandakan adanya infeksi akut dengue atau dengan kata lain menunjukkan kalau penderita sedang terkena infeksi virus dengue. Sensitivitas dan spesifitas pemeriksaan ini cukup tinggi dalam menentukan adanya infeksi virus dengue.
Pemeriksaan IgG/IgM anti dengue meskipun cukup baik dalam mendeteksi adanya infeksi virus dengue dalam tubuh seseorang tapi masih memiliki kekurangan dalam mendeteksi virus dengue secara dini. Karena yang diperiksa adalah antibodi terhadap virus dengue dan antibodi baru muncul hari keempat pasca infeksi, maka pemeriksaan ini seringkali tidak dapat mendeteksi infeksi virus dengue pada penderita yang mengalami gejala panas hari ke-0 hingga hari ke-4.Nah baru-baru ini telah ditemukan rapid test yang mendeteksi adanya antigen dari protein struktural virus dengue. Untuk mempertahankan hidup, virus dengue memerlukan dukungan dari protein yang mempertahankan tubuhnya, terutama untuk membantu masuk dalam sel inang. Protein ini disebut sebagai protein struktural yang berfungsi sebagai enzim dan katalis dalam upaya virus mempertahankan hidupnya.
Pemeriksaan NS1 Ag yang berarti nonstruktural 1 antigen adalah pemeriksaan yang mendeteksi bagian tubuh virus dengue sendiri. Karena mendeteksi bagian tubuh virus dan tidak menunggu respon tubuh terhadap infeksi maka pemeriksaan ini dilakukan paling baik saat panas hari ke-0 hingga hari ke -4, karena itulah pemeriksaan ini dapat mendeteksi infeksi virus dengue bahkan sebelum terjadi penurunan trombosit. Setelah hari keempat kadar NS1 antigen ini mulai menurun dan akan hilang setelah hari ke-9 infeksi. Angka sensitivitas dan spesifisitasnya pun juga tinggi. Bila ada hasil NS1 yang positif menunjukkan kalau seseorang ‘hampir pasti’ terkena infeksi virus dengue. Sedangkan kalau hasil NS1 Ag dengue menunjukkan hasil negatif tidak menghilangkan kemungkinan infeksi virus dengue dan masih perlu dilakukan observasi serta pemeriksaan lanjutan. Ini terjadi karena untuk mendeteksi virus dengue diperlukan kadar yang cukup dari jumlah virus dengue yang beredar, sedangkan pada fase awal mungkin belum terbentuk cukup banyak virus dengue tetapi apabila pengambilan dilakukan setelah munculnya antibodi maka kadar virus dengue juga akan turun.
Disinilah diperlukan ketepatan dalam pemilihan waktu dan jenis pemeriksaan. Apabila panas masih awal pilihan pemeriksaannya adalah NS1 Ag Dengue tetapi apabila sudah melewati hari ke-4 panas maka pilihannya adalah pemeriksaan IgG/IgM Dengue. Terkadanhg kedua pemeriksaan ini dilakukan bersamaan terutama saat waktu borderline atau hari ke-3 hingga hari ke-5 panas. Jadi apabila ada gejala demam berdarah seperti panas tinggi, kedua pemeriksaan tadi dapat dilakukan disamping pemeriksaan standar seperti pemeriksaan darah lengkap untuk melihat kadar trombosit. Semoga membantu !.