Dulu positif sekarang kok negatif?

Hari itu terjadi kehebohan di selasar suatu rumah sakit, seorang laki-laki terlihat kebingungan sambil membawa selembar hasil laboratorium, sementara wanita yang berada di sampingnya menangis tersedu-sedu. Selidik punya selidik ternyata kedua orang ini shock setelah hasil pemeriksaan laboratoriumnya menunjukkan hasil Hepatitis B positif. Si pasien laki-laki ini bergegas menggandeng wanita disampingnya untuk segera pergi dari rumah sakit dan dengan penuh rasa ragu dia bertekad mencari laboratorium lain, siapa tahu hasil dari rumah sakit ini salah, pikirnya.
Setelah diambil darah lagi di sebuah laboratorium, untuk diperiksakan hepatitis B nya, si laki-laki ini dapat tersenyum lega karena hasilnya menunjukkan hepatitis B nya negatif. Tapi keraguan muncul lagi dibenaknya, jangan-jangan hasil dari rumah sakit tadi yang benar, dan hasil laboratorium kedua tadi salah. TerusĀ  bagaimana ya?
Kejadian diatas mungkin pernah terjadi pada kita, secara medis hal tersebut sangat mungkin. Ada beberapa hal yang mempengaruhi kenapa hasil tes tadi berubah dalam waktu pendek.
1. Jenis dan perjalanan penyakit
Banyak penyakit mempunyai keunikan dalam perjalanan penyakitnya. Contoh paling sering dikemukakan adalah infeksi virus HIV yang menyebabkan AIDS. Dalam perjalanan penyakit AIDS ini dikenal istilah ‘window period’ yaitu kondisi dimana virus HIV telah ADA didalam tubuh dan berkembang tetapi penderita tidak mempunyai keluhan dan apabila diperiksakan hasil tes nya akan negatif. Hingga pada suatu saat, kadar virus HIV mencapai jumlah tertentu barulah pemeriksaan laboratorium mampu mendeteksinya. Lalu bagaimana bila hasil yg pertama positif lalu yg kedua negatif? Virus HIV dan beberapa virus yang lain mempunyai bentuk dan jenis yang mirip satu sama lain, alat tertentu kadang tidak bisa membedakan virus atau kuman yang mirip sehingga akan memberikan hasil yang positif. Untuk kasus HIV positif harus dilakukan tes konfirmasi. Tes ini bersifat spesifik, artinya mempunyai kemampuan dalam membedakan jenis virus HIV dengan virus yang lain. Sehingga hasil tes yang positif tadi berubah menjadi negatif apabila dalam tubuh kita tidak ada virus HIV.
Sama seperti HIV, hepatitis B juga mempunyai window period. Bedanya, saat window period ini dapat dideteksi antibodi terhadap inti virus HIV (IgM antiHbc) sehingga penanganan dini dapat dilakukan. Hepatitis B virus sendiri sebagian besar juga akan sembuh sendiri sehingga apabila tes awal hepatitis positif bisa berubah jadi negatif. Dalam dunia medis, hal ini disebut sebagai serokonversi. Tapi bisakah tes yang negatif tadi berubah jadi positif lagi? Tentu saja bisa,kalau tertular lagi. Misalkan saja seorang istri yang mempunyai suami penderita hepatitis B, waktu cek darah pertama hasil HbsAg nya positif, enam bulan kemudian cek ulang hasilnya negatif. Karena penularan hepatitis B ini lewat cairan tubuh seperti darah dan sperma, maka kemungkinan terinfeksi virus hepatitis B lagi sangat terbuka. Begitu juga sebaliknya.
Masih banyak penyakit yang perjalanannya seperti dua kasus diatas. Ketepatan waktu pemeriksaan dan pemeriksaan secara periodik akan sangat membantu diagnosis.
2. Faktor penderita
Faktor penderita disini terutama berhubungan dengan bagaimana tubuh memperlakukan patogen yang masuk ke dalam tubuhnya. Beberapa pemeriksaan laboratorium tertentu mendeteksi antibodi terhadap penyakit. Pola pikirnya adalah apabila seseorang terkena penyakit maka tubuh akan memberikan respon dengan membentuk antibodi yang spesifik untuk kuman tersebut. Nah, antibodi inilah yang diperiksa oleh suatu alat khusus. Pembentukan antibodi ini sangat dipengaruhimoleh kondisi tubuh seseorang. Malnutrisi, kekurangan protein dan sakit parah akan membuat tubuh tidak mampu membentuk antibodi. Sehingga apabila dilakukan pemeriksaan yang membutuhkan kehadiran antibodi akan memberikan hasil negatif. Dan ketika kondisi tubuh penderita membaik dan mampu membentuk antibodi maka hasil tes nya pun bisa menjadi positif.
3. Faktor teknis laboratoris
Pemeriksaan laboratorium menggunakan METODE tertentu untuk mendeteksi suatu kelainan. Metode ini mempunyai sensitivitas dan spesifisitas dalam mendeteksi gangguan tersebut. Sensitivitas artinya kemampuan metode dalam mendeteksi suatu kelainan dalam jumlah paling kecil. Contohnya bila suatu virus ada dalam tubuh, maka kadar terkecil dari virus tersebut yang masih bisa dideteksi oleh metode tersebut itulah yang dinamakan sensitivitas. Maka dari itu semakin sensitif suatu pemeriksaan semakin baik metode tersebut dalam mendeteksi penyakit.Pemeriksaan untuk skrining atau check up memerlukan suatu metode yang sensitivitasnya tinggi sehingga dapat mendeteksi penyakit secara dini.
Satu lagi yang penting mengenai metode ini adalah spesifitasnya. Seperti pada kasus HIV diatas, spesifitas menentukan bagaimana sebuah metode mampu membedakan patogen penyebab sakit dengan bahan lainnya. Idealnya, suatu metode pemeriksaan laboratorium mempunyai sensitivitas dan spesifisitas yang tinggi, namun kenyataannya apabila sensitivitasnya tinggi, metode tersebut spesifitasnya rendah, begitu pula sebaliknya. Sehingga, untuk mendeteksi suatu penyakit, terkadang tidak cukup hanya dengan satu pemeriksaan, tapi perlu dikonfirmasi dengan pemeriksaan lain.
Faktor pra analitik juga bisa berpengaruh terhadap hasil laboratorium. Sebagai contoh, pemeriksaan Prostat Spesific Antigen (PSA) untuk melihat gangguan di prostat, dapat memberikan hasil yang false positif pada penderita yang dilakukan manipulasi di saluran kencingnya. Seperti pemasangan kateter, pemeriksaan colok dubur dan tindakan lainnya. False positif disini berarti penderita sebenarnya tidak menderita suatu penyakit, tapi hasil laboratorium menunjukkan adanya penyakit.
Contoh lain pada pemeriksaan gula darah puasa, akibat puasa yang terlalu pendek, kadar gula bisa saja meningkat sehingga hasilnya menjadi lebih tinggi dari normal. Atau bisa juga sebaliknya, akibat puasa yang terlalu panjang, seseorang yang mestinya menderita kencing manis hasil laboratoriumnya bisa menunjukkan kadar gula yang normal atau rendah. Semoga membantu.

4 responses to “Dulu positif sekarang kok negatif?

  1. ARTikelnya bagus, menginspirasi bagi yang awam agar bisa mencari solusi dan alternatif. kalo didiagnosa sakit ndak tau kemana bertanya lg khan bingung….

  2. abidfahruddin

    Tks, maaf reply nya lama

  3. Tapi klo dalam waktu 1 hari,hasil test HbsAg bisa berubah GAK MUNGKINNNNNNNNNNNN. bisa di cek lagi ke lab yg tadi periksa n konsul ke dkter

  4. abidfahruddin

    Masih mungkin, bila metode yg dipakai berbeda shg sensitivitasnya beda

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s